TEKNIK PENULISAN LAPORAN Penelitian tindakan kelas (PTK)


                                                Oleh: Romlah Gany


A. Pendahuluan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai bagian dari penelitian tindakan (action research) yang dilakukan di kelas bertujuan memperbaiki mutu praktik di kelas[2], sedangkan tujuan utamanya adalah meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran, mengatasi masalah pembelajaran, meningkatkan profesionalisme, dan menumbuhkan budaya akademik.[3]  PTK makin diminati dan menjadi prioritas di kalangan para guru. Oleh karena itu, pengetahuan tentang PTK makin dibutuhkan. Masih banyak guru yang membuat karya tulis ilmiah (KTI) menyebut tulisannya sebagai PTK, tetapi sebenarnya belum atau bahkan bukan PTK.
Laporan PTK merupakan salah satu bentuk karya tulis ilmiah. Masih banyak bentuk karya tulis ilmiah yang lain. Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 84/1993 Tanggal 24 Desember 1993, terdapat  tujuh macam karya ilmiah di bidang pendidikan yaitu: (1) karya tulis  ilmiah hasil penelitian, (2) pengkajian, survei, dan/atau evaluasi di bidang pendidikan, (3) makalah atau artikel yang berisi tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri dalam bidang pendidikan,  (4) tulisan ilmiah populer di bidang pendidikan dan kebudayaan yang disebarluaskan melalui media massa,  (5) prasaran yang berupa tinjauan, gagasan atau ulasan ilmiah yang disampaikan dalam pertemuan ilmiah, (6) buku pelajaran atau modul, dan (7) karya penerjemahan buku pelajaran/ karya ilmiah yang bermanfaat bagi pendidikan.  Jadi, karya tulis ilmiah itu tidak hanya berbentuk laporan PTK.
Menulis karya ilmiah merupakan salah satu bentuk kompetensi profesional guru. Ada empat kompetensi guru menurut Standar Nasional Pendidikan (SNP), yaitu kepribadian, profesional, kependidikan, dan sosial.[4] Di antara butir dari kometensi guru tersebut, yang langsung terkait dengan kebutuhan para guru untuk promosi kenaikan pangkat dan jabatan dari golongan IVa ke atas adalah kompetensi profesional, yaitu kemampuan melakukan penelitian sederhana dalam rangka meningkatkan kualitas profesional guru, khsusnya kualitas pembelajaran.
Pada dasarnya ada beragam penelitian yang dapat dilakukan oleh guru, misalnya penelitian deskriptif, penelitian eksperimen, dan penelitian tindakan. Di antara jenis penelitian  tersebut yang diutamakan dan disarankan adalah penelitian tindakan kelas. Dalam penelitian tindakan terdapat kata tindakan, artinya  dalam hal ini guru  melakukan sesuatu. Arah dan tujuan penelitian yang dilakukan oleh guru harus jelas, yaitu untuk kepentingan peserta didik dalam meningkatkan hasil belajarnya,  bukan untuk kepentingan guru.
Tindakan atau intervensi tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik, maka harus terkait dengan pembelajaran. Artinya, penelitian tindakan kelas harus menyangkut upaya guru dalam bentuk proses pembelajaran. Namun demikian, penelitian tindakan kelas bukanlah sekadar mengajar seperti biasa, tetapi harus mengandung suatu pengertian, bahwa tindakan yang dilakukan didasarkan atas upaya meningkatkan hasil, yaitu lebih baik dari sebelumnya. Tindakan yang dicobakan dalam penelitian tindakan kelas harus cemerlang dan guru sangat yakin bahwa hasilnya akan lebih baik dari biasanya.

B.   Cara Menyusun Laporan Penelitian Tindakan Kelas
Setelah melakukan PTK, guru dituntut untuk dapat menulis laporannya. Dalam penyusunan laporan, perlu mengikuti garis besar sistematika yang umum digunakan. Untuk memudahkan menulis laporan, terlebih dahulu harus dikembangkan format atau struktur laporan. Secara garis besar, laporan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian pembukaan, bagian isi, dan bagian penunjang. Bagian pembukaan terdiri atas halaman judul, halaman pengesahan, dan abstrak. Bagian isi terdiri atas pendahuluan, prosedur, hasil dan pembahasan, simpulan dan rekomendasi atau saran. Bagian penunjang terdiri atas daftar pustaka, lampiran-lampiran yang perlu, dan lampiran instrumen penelitian.[5] Penjelasan rinci, dapat diperhatikan contoh salah satu format laporan PTK berikut ini.[6]

CONTOH FORMAT LAPORAN PTK

Halaman Judul
Halaman Pengesahan
Abstrak
(Bahasa Indonesia + Bahasa Inggris, maksimum masing-masing 150-250 kata )


KATA PENGANTAR
DARTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Masalah dan latar belakang masalah   
Uraikan secara lugas masalah yang ingin ditanggulangi, penyebab timbulnya masalah tersebut, dan tingkat masalah yang ingin ditanggulangi oleh peneliti                                          

B. Tindakan yang Dipilih
Uraikan secara singkat bentuk tindakan yang akan diambil (misal: mengapa berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi/ TIK?), argumentasi teoretik dan/atau empirik pemilihan tindakan, dan rumuskan hipotesis tindakan sebagai landasan tindakan yang digunakan (bila dipandang memungkinkan). 

C. Tujuan
Uraikan hasil penelitian yang diharapkan (anticipated results) dari penelitian ini.

D. Lingkup Penelitian
Sebutkan lingkup atau batas- batas tindakan yang akan diambil peneliti.

E. Signifikansi Hasil Penelitian
Uraikan secara jelas manfaat hasil penelitian bagi sekolah (misalnya: pengembangan kurikulum,  kebijakan, guru, maupun siswa, dsb.)
BAB II
PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A.  Setting Penelitian
Sebutkan lokasi penelitian, waktu penyelenggaraan penelitian (misal: Semester I, II, bulan, tahun, dst.), dan karakteristik kelompok sasaran yang menjadi subjek penelitian, serta bentuk aktivitas penggunaan ICT dalam pembelajaran. 

B. Prosedur Penelitian
1. Gambaran Umum Penelitian
Uraikan gambaran umum penelitian yang dilakukan termasuk jumlah dan prosedur siklus penelitian yang dilakukan.
2. Rincian Prosedur Penelitian
a. Persiapan Tindakan
Sebutkan persiapan apa saja yang dilakukan (seperti analisis diagnostik untuk menspesifikasi masalah dan rincian penyebab timbulnya masalah), pembuatan alat-alat  berbasis TIK dalam rangka tindakan, dan lain-lain yang terkait dengan pelaksanaan tindakan di kelas
b. Implementasi Tindakan
Deskripsikan tindakan yang akan diambil, skenario kerja tindakan, dan prosedur tidakan yang digunakan peneliti
c. Pemantauan dan Evaluasi
Uraikan Prosedur pemantauan dan evaluasi tindakan, alat- alat pemantauan dan evaluasi yang digunakan, beserta kriteria keberhasilan tindakannya
d. Analisis dan Refleksi 
Uraikan prosedur analisis hasil pemantauan dan refleksi terhadap tindakan yang telah diambil, tim yang terlibat dalam analisis hasil pemantauan dan refleksi, kriteria dan rencana bagi tindakan daur ulang.
BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Sajikan hasil penelitian atau temuan setelah tindakan dilaksanakan dan penyajian temuan harus sesuai dengan masalah yang telah dirumuskan, dan dilakukan pembahasan secara lengkap tentang temuan atau hasil PTK tersebut. Pembahasan hendaknya memberikan penjelasan tentang kegagalan maupun keberhasilan penerapan TIK dalam pembelajaran, tentu bila salah satu atau keduanya ada, suatu tindakan


BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Simpulkan hasil penelitian yang diperoleh secara lengkap, sesuai dengan masalah yang diteliti

B. Saran- saran
Ajukan saran- saran untuk penerapan hasil penelitian dan kemungkinan penelitian lebih lanjut dimasa mendatang.

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampirkan (a) model program/materi pembelajaran berbasis TIKmultimedia yang sekaligus memperlihatkan skenario tindakan, (b) instrumen penelitian, (c) data pendukung (contoh: hasil rekap tabulasi data, foto dan lainnya), dan (d) lain-lain.
Laporan PTK dibuat setelah penelitian selesai dilakukan dan setelah data diperoleh dari lapangan kemudian dianalisis. Jadi laporan bukanlah karangan si penulis yang dibuat tanpa disertai data dan informasi yang diperoleh di lapangan. Untuk memudahkan menulis laporan lakukanlah hal-hal berikut:
1.      Kembangkan judul atau sub judul untuk setiap bagian dari format yang dikembangkan untuk memberi isi pada laporan tersebut.
2.      Tuliskan apa yang ada dalam pikiran Anda, baik itu isi, fakta, konsep atau informasi lainnya, tanpa memikirkan bentuk dan susunan kalimatnya terlebih dahulu.
3.      Apabila  isi yang Anda inginkan sudah masuk dalam laporan tersebut, betulkan bentuk dan formatnya sesuai dengan bentuk dan format yang dikembangkan.
4.      Betulkan kalimatnya sesuai dengan gramatika, sintaks, dan gaya penulisannya.
Hal lain yang penting dalam menulis laporan PTK adalah sinkronisasi antara masalah, tujuan, hipotesis tindakan, dan kesimpulan. Hal ini sangat  penting, karena masalah sebagai titik tolak dalam melakukan PTK, sehingga hasil dan kesimpulannya harus berupa cara untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa laporan PTK adalah cara untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran.
 Pengalaman selama membimbing skripsi mahasiswa menunjukkan bahwa dalam menulis laporan penelitian (skripsi), laporan tersebut tidak dapat menjelaskan ide yang akan dikomunikasikan, logikanya melompat-lompat, sehingga membingung-kan orang lain yang membacanya.  Kemampuan menulis di kalangan mahasiswa masih cukup memprihatinkan, meskipun sudah ada beberapa mahasiswa yang tulisannya cukup baik.
Menulis laporan pada intinya adalah mengkomunikasikan ide, apa yang akan  dilakukan dan dikerjakan dalam bentuk bahasa tulis. Meskipun ide yang akan disampaikan bagus, akan tetapi jika tidak ditulis dalam kalimat yang baik, maka ide tersebut gagal diterima oleh pembaca. Dengan demikian menulis laporan perlu kemampuan menulis yang memadai.
     
C. Kemampuan Menulis
Menulis laporan penelitian memerlukan kemampuan menulis yang cukup memadai. Salah satu indikator seseorang telah memiliki kemampuan menulis secara memadai, apabila laporan yang ditulisnya telah mampu menjelaskan ide yang akan dikomunikasikan kepada orang lain. Artinya, jika orang lain bisa menangkap pesan komunikasi ilmiah yang dikemas dalam tulisan, itu berarti si penulis telah bisa menulis untuk orang lain. Sebaliknya, jika tulisan itu hanya bisa dipahami oleh diri sendiri, sementara orang lain tidak mengerti apa yang dimaksud dan kehendaki dalam tulisan itu, maka itulah indikator  bahwa orang tersebut belum memiliki kemampuan menulis secara memadai. Dengan kata lain, seorang penulis harus mampu mengajak dialog dengan pembacanya secara tertulis. Tahap paling awal yang harus menjadi partner dialog adalah para teman sejawat yang telah mempunyai kemampuan memulis memadai.
Banyak keterampilan yang harus dimiliki agar para pendidik dapat menulis laporan ataupun karya ilmiah secara komunikatif dan efisien. Dari banyak faktor itu yang paling vital untuk dikuasai adalah keterampilan untuk membuat paragraf secara logik dan sistematik. Sebenarnya, setiap pendidik sudah lama berbahasa Indonesia baik lisan maupun tertulis. Paling tidak mereka telah menggunakan bahasa Indonesia seperempat abad atau bahkan lebih dari itu. Namun demikian, belum tentu di antara pendidik selalu mampu mengkonstruksikan sebuah paragraf secara benar dalam arti muatan logik dan sistematikanya.
Tidak semua dari penulis laporan paham tentang apa dan bagaimana kedudukan paragraf dalam suatu karya tulis. Banyak orang mengira bahwa paragraf hanya merupakan pergantian alinea baru dengan ditandai masuknya beberapa spasi dari margin kiri untuk kalimat pertamanya. Anggapan ini keliru, paragraf merupakan format komunikasi tertulis yang digunakan untuk mengemukakan suatu ide atau gagasan tertentu, sehingga setiap paragraf harus berisi suatu ide atau pemikiran yang berbeda dalam rangka membahas atau memecahkan permasalahan tertentu.
Paragraf yang baik dan efektif memiliki paling tidak tiga syarat, yaitu ketunggalan (unity), koherensi, dan adekuasi (Bander, 1978; Leggert, 1978 dalam Tri Rijanto, 2009).[7]
Pertama, azas ketunggalan dalam paragraf dapat dikonstruksi jika penulis mampu memberikan hanya sebuah ide atau gagasan sebagai pengendali paragraf. Artinya, penulis tidak diperkenankan memiliki gagasan pokok kembar atau bahkan ganda dalam sebuah paragraf. Untuk itu, penulis harus dapat merumuskan ide pokok yang akan dikembangkan dalam paragraf itu ke dalam kalimat yang pendek, lugas, jelas, dan padat. Menurut terminologi teknik menulis, kalimat pengendali gagasan dalam sebuah paragraf biasa disebut dengan topic sentence. Biasanya topic sentence terletak pada kalimat pertama dan/atau terakhir dari sebuah paragraf.
Setelah penulis memiliki gagasan pengendali paragraf, langkah berikutnya yang harus dilakukan ialah menopang gagasan pengendali dengan berbagai gagasan pendukungnya (supporting ideas). Gagasan pendukung ini bisa berupa teori, fakta, hasil pengamatan, hasil penelitian, pendapat orang yang memiliki otoritas, berbagai contoh, dan sebagainya. Dalam memberikan gagasan pendukung itu penulis bisa saja mengambil berbagai gaya tulisan secara bervariasi, misalnya gaya naratif, deskriptif, komparatif, induktif, deduktif, dan sebagainya.
 Kedua, koherensi, yang merupakan pengembangan dan tindak lanjut dari syarat yang pertama. Artinya, untuk memenuhi syarat ini penulis harus mampu merangkai gagasan-gagasan pendukung bagi gagasan pengendali secara koheren. Semua gagasan pendukung yang ditampilkan harus menunjukkan adanya dukungan yang kait-mengkait dalam memberi dukungan terhadap gagasan pengendali. Ibarat orang menenun, maka benang-benang yang ada dari segala macam warna harus dianyam dalam bentuk dan posisi saling kait-mengkait. Dengan cara ini maka penulis bisa membimbing dan mengajak pembaca menelusuri alur gagasan secara logik. Paragraf yang koheren berarti paragraf yang memiliki sejumlah gagasan pendukung yang tertata secara logik dan relevan dengan gagasan pengendalinya. Sebaliknya, sebuah paragraf yang tidak koheren ia akan banyak menampilkan gagasan pendukung yang tidak relevan, melompat-lompat dan jungkir-balik dilihat dari alur logikanya.
Koherensi sebuah paragraf dapat dipertahankan dengan menyusun semua kalimat atas dasar kronologi waktu, ruang, klimaks, dan kronologi logika yang bersifat umum ke khusus. Kronologi waktu dan ruang gampang dilakukan. Namun, hal itu sering diabaikan oleh kebanyakan penulis pemula. Kronologi atas dasar klimaks suatu gagasan dapat disusun dengan berangkat dari gagasan sederhana, yang kurang penting, sampai pada klimaksnya, yaitu gagasan inti yang teramat penting dalam suatu pembahasan topik tertentu. Begitu juga kronologi gagasan yang umum menuju khusus dapat dilakukan dengan menampilkan ide yang luas cakupannya kemudian bergerak ke fenomena yang lebih khusus dan spesifik. Agar seorang penulis bisa mengorganisasikan segala macam bentuk kronologi dengan tampilan yang segar dan lancar perlu kiranya menggunakan berbagai kata transisi secara silih berganti dan bervariasi. Dengan cara ini akhirnya sebuah paragraf akan memiliki alur yang alami, enak dibaca, dan jelas kandungan pesan ilmiahnya. Betapapun banyaknya ilmu yang dimiliki seseorang, jika tidak dikomunikasikan dengan cara yang jelas, tidak ada maanfaatnya. Oleh karena itu tidak cukup seorang pendidik hanya menghasilkan sebuah laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), tetapi lebih jauh dari itu, suatu kemampuan untuk menyajikannya dalam bahasa tulis yang jelas dan mudah dipahami orang lain masih merupakan sebuah tantangan berikutnya yang harus terus-menerus diatasi.
Ketiga, adekuasi. Syarat ketiga ini sangat penting bagi seorang penulis untuk memiliki gagasan pendukung yang cukup memadai. Kriteria cukup di sini bukan dilihat dari segi kuantitasnya, tetapi harus dilihat dari segi kualitasnya. Paragraf yang adekuat berarti memiliki banyak detail, penjelasan, contoh, bukti, eksplanasi, deskripsi yang disusun secara koheren. Dengan demikian paragraf tersebut memiliki validitas yang tinggi dilihat dari keberhasilan penulis mempertahankan gagasan pengendalinya.
Sebagai contoh, berikut ini merupakan sebuah paragraf  yang dikembangkan dengan tanpa memperhatikan persyaratan minimal bagi layaknya sebuah paragraf laporan ilmiah atau karya tulis ilmiah. 

”Prestasi belajar tinggi merupakan dambaan setiap orang dan guru. Namun perlu disadari bahwa prestasi belajar merupakan hasil suatu proses yang melibatkan berbagai faktor. Oleh karena itu GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara) menegaskan bahwa pendidikan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah, dan masyarakat, maka faktor-faktor itu pulalah yang menyebabkan tingginya prestasi belajar siswa. Menurut Daoed Yoesoef (1986:347). Baik disengaja ataupun tidak, lingkungan ini turut mempengaruhi pendidikan. Karenanya lingkungan ini perlu diperhatikan, bahkan dibina, sehingga menjadi satu lingkungan yang bermanfaat (condusive) bagi perkembangan pendidikan, termasuk lingkungan sekolah. Masih dalam artikel Daoed Yoesoef yang sama dinyatakan bahwa lingkungan lain yang juga sangat menentukan tingkah laku  anak-anak adalah keluarga atau rumah tangga. Dari orangtua yang tidak terdidik memang sulit diharapkan dapat membina rumah tangganya menjadi lingkungan yang condusive untuk pendidikan anak. Celakanya dari orangtua yang terpelajar juga tidak semuanya dapat diandalkan (hal 348).”

Paragraf tersebut jelas melanggar kaedah eksistensi sebuah paragraf. Namun, bukan berarti penulisnya tidak berilmu. Hanya saja kepada yang bersangkutan belum terinformasikan bagaimana menyusun paragraf yang efektif. Sebenarnya banyak informasi yang ditampilkan dalam paragraf tersebut, tetapi karena tidak memenuhi prinsip: unity, koherensi, dan adekuasi (adequacy), maka paragraf tersebut gagal mengkomunikasikan muatan ilmiahnya. Apabila paragraf semacam itu muncul untuk proposal atau laporan PTK, jelas sulit dipahami oleh orang lain. Paragraf tersebut dapat disempurnakan seperti berikut ini.
”Prestasi belajar tinggi merupakan dambaan setiap orang dan guru.  Prestasi belajar merupakan hasil suatu proses yang melibatkan berbagai faktor. Faktor tersebut di antaranya adalah keluarga, sekolah dan masyarakat. Hal ini telah ditegaskan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) bahwa pendidikan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah, dan masyarakat. Menurut Daoed Yoesoef (1986:347), baik disengaja ataupun tidak, lingkungan turut mempengaruhi pendidikan. Oleh karena itu lingkungan perlu diperhatikan, bahkan dibina, sehingga menjadi satu lingkungan yang bermanfaat (condusive) bagi perkembangan pendidikan, termasuk lingkungan sekolah. Lingkungan lain yang juga sangat menentukan tingkah laku  anak adalah keluarga atau rumah tangga. Dari orangtua yang tidak terdidik sulit diharapkan dapat dibina lingkungan keluarga yang condusive untuk pendidikan anak. Celakanya dari orangtua yang terpelajar pun tidak semua lingkungan keluarganya kondusif untuk pendidikan anak. Dengan demikian lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat amat menentukan keberhasilan pendidikan.”

Pembahasan mengenai paragraf yang cukup panjang di sini, bukan berarti penulis mengajak pembaca untuk melangkah mundur (setback) ke pelajaran bahasa Indonesia di SLTA atau perguruan tinggi. Namun, persoalan ini diangkat berdasarkan pengalaman selama membimbing dan menguji skripsi. Pada hakikatnya konstruksi paragraf merupakan titik paling rawan bagi para penulis pemula. Namun demikian, penulis minta maaf kepada pemerhati bahasa Indonesia, jika sekiranya pembahasan ini dianggap sebagai hal yang terlalu trivial.

D. Pedoman Pensekoran PTK
Untuk mengetahui apakah laporan penelitian tindakan kelas yang ditulis telah sesuai dengan yang diharapkan, penulis dapat menilai sendiri laporannya apakah telah sesuai dengan kriteria tertentu. Secara umum laporan KTI yang baik dan benar adalah laporan KTI yang memenuhi kriteria ”APIK”[8], yaitu Asli, Perlu, Ilmiah dan Kosisten.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa menilai laporan KTI dapat dilakukan oleh diri sendiri, didiskusikan dengan teman sejawat, melihat pedoman dan KTI harus APIK.  Di bawah ini disajikan salah satu contoh pedoman pensekoran laporan PTK, yang digunakan oleh tim penilai laporan PTK guru di Depdiknas R.I. Jika skor di atas 80, maka dapat dikatakan laporan sudah cukup baik. Demikian sebaliknya apabila skor  di bawah 80, maka laporan harus diperbaiki.      

Tabel 1.
PEDOMAN PENSKORAN
LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

No.
Variabel/Deskriptor
Skor
Jml
Ket
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
I
PENDAHULUAN

5


1. Mencantumkan latar belakang
1,5



§  Ada latar belakang tetapi tidak relevan ® 0,5




§  Mencatumkan latar belakang yang relevan ® 1,5




2. Mencantumkan tujuan penelitian
2



§  Mencantumkan tujuan penelitian tetapi tidak jelas ® 0,5




§  Mencantumkan tujuan penelitian dengan tepat dan jelas tetapi tidak sesuai dengan latar belakang ® 1,0




§  Mencantumkan tujuan penelitian dengan tepat, jelas, dan sesuai dengan latar belakang ® 2,0




3. Mencantumkan proses penulisan laporan
0,5



4. Mencantumkan jumlah siklus perbaikan pembelajaran
0,5



5. Mencantumkan gambaran umum isi laporan
0,5


II
PERENCANAAN PTK

25


A. Identifikasi Masalah

7


 1. Ada informasi tentang pembelajaran yang berlangsung
2



§  Informasi tentang pembelajaran dengan masalah yang akan diatasi ®  1,0




§  Informasi pembelajaran berkaitan dengan masalah yang akan diatasi ® 2,0




 2. Mencantumkan proses identifikasi masalah
4



§  Proses identifikasi masalah tidak jelas dan tidak logis ® 2,0




§  Proses identifikasi masalah jelas tetapi tidak lolgis atau logis tetapi tidak jelaas ®  3,0




§  Proses identifikasi masalah logis dan jelas ®  4,0




3. Mencantumkan informasi tentang pihak yang membantu
1



B. Analisis Permumusan Masalah

8


1.  Menyampaikan proses analisis masalah
2



§ Proses analisis tidak jelas ® 1,0




§ Proses analisis jelas ® 2,0




2.  Menyampaikan faktor-faktor penyebab munculnya masalah
2



§ Faktor penyebab tidak relevan dengan masalah yang muncul ® 1,0




§ Proses analisis jelas ® 2,0




3. Merumuskan masalah
4



§ Rumusan masalah tidak jelas ® 1,0




§ Rumusan masalah jelas tetapi tidak sesuai dengan latar belakang ® 2,0




4.  Rumusan masalah jelas dan sesuai dengan latar belakang ® 4,0




C.  Rencana Perbaikan (Lihat RP yang dilampirkan)

10


 1. Mencantumkan langkah-langkah perbaikan
6



§  Langkah-langkah perbaikan tidak logis ® 2,0




§  Langkah-langkah perbaikan jelas tetapi tidak logis, atau logis tetapi tidak jelas ® 4,0




§  Langkah-langkah perbaikan jelas dan logis ® 6,0




  2. Kelengkapan komponen-komponen RP
4



§  Komponen-komponen tidak lengkap dan tidak saling berkaitan ® 1,0




§  Komponen-komponen lengkap tetapi tidak saling berkaitan ® 2,0




§  Komoponen-komponen lengkap dan saling berkaitan ® 4,0



III
PELAKSANAAN PTK

22


A. Tempat dan Waktu Pelaksanaan

3


 1. Mencantumkan nama sekolah
0,5



 2. Mencantumkan kelas
0,5



 3. Mencantumkan matapelajaran
0,5



 4. Mencantumkan waktu pelaksanaan
§  Mencantumkan waktu pelaksanaan secara umum ® 0,5
§  Mencantumkan waktu pelaksanaan untuk setiap pertemuan pembelajaran ® 1,0
1,0



 5. Waktu pelaksanaan logis
0,5



B. Prosedur Pelaksanaan

14


1.  Adanya informasi tentang prosedur pelaksanaan PTK (adanya siklus: merencanakan, melaksanakan, mengamati, dan merefleksi)
1



2.  Prosedur Pelaksanaan PTK:
§  Prosedur pelaksanaan dicantumkan tetapi tidak jelas ® 1,0
§  Prosedur pelaksanaan disampaikan secara logis (adanya kesinambungan kegiatan dalam satu siklus dan antar siklus) ® 2,0
2



3.  Adanya informasi tentang pengamat/supervisor (informasi tentang pengamat kadang-kadang tercantum di bagian pendahuluan)
1



4.  Adanya informasi tentang prosedur umum pembelajaran
§  Prosedur umum pembelajaran tidak logis dan tidak jelas ® 1,0
§  Prosedur umum pembelajaran logis tetapi tidak jelas atau jelas tetapi tidak logis ® 3,0
§  Prosedur umum pembelajaran jelas dan logis ® 5,0
5



5.  Adanya informasi tentang prosedur khusus pembelajaran:
§  Tercantum langkah-langkah pembelajaran khusus tetapi tidak lengkap  untuk setiap siklus pembelajaran ® 1,0
§  Tercantum langkah-langkah pembelajaran khusus lengkap  untuk setiap siklus pembelajaran tetapi tidak jelas® 1,0
§  Tercantum langkah-langkah pembelajaran khusus lengkap  untuk setiap siklus pembelajaran dan jelas ® 1,0
5



C. Hal-hal yang Unik (Kejadian-kejadian di luar perencanaan yang  muncul di dalam kelas)

5


1. Tidak mencatumkan hal-hal yang unik ® 1,0




2.  Menyampaikan hal-hal unik tetapi tidak berkaitan dengan pembelajaran ® 2,0




3.  Menyampaikan hal-hal unik yang muncul selama pembelajaran ® 3,0




4.  Menyampaikan hal-hal yang unik selama pembelajaran yang berkaitan dengan pembelajaran secara jelas ® 5,0



IV
TEMUAN (HASIL YANG DIPEROLEH)

33


A. Hasil Pengolahan Data

8


1.  Menyampaikan data yang dikumpulkan tetapi data tidak sesuai dengan masalah ® 2,0




2.  Data yang dikumpulkan sesuai dengan masalah tetapi tidak akurat dan tidak disertai tabel/gambar/grafik/ ilustrasi ® 4,0




3.  Data yang dikumpulkan sesuai dengan masalah dan diolah  dengan akurat tetapi tidak disertai tabel/gambar/ grafik/ilustrasi ® 6,0




4.  Data yang dikumpulkan sesuai dengan masalah, diolah dengan akurat dan disertai tabel/gambar/grafik/ ilustrasi ® 8,0




B. Deskripsi Temuan dan Refleksi

10


1.  Dicantumkan temuan/hasil perbaikan:
§  Temuan yang dicantumkan tidak sesuai dengan data yang diolah ® 2,0
§  Temuan yang dicantumkan sesuai dengan data yang diolah tetapi tidak jelas ® 4,0
§  Temuan yang dicantumkan sesuai dengan data yang diolah dan disajikan dengan jelas ® 6,0
6



2.  Adanya informasi tentang keberhasilan/kegagalan
4



§  Dicantumkan informasi tentang keberhasilan/kegagaln perbaikan pembelajaran tetapi tidak jelas ® 2,0
§  Dicantumkan informasi tentang keberhasilan/kegagalan perbaikan pembelajaran secara jelas ® 4,0




C. Pembahasan

15


1. Adanya penjelasan tentang mengapa temuan tersebut terjadi
3



2. Penjelasan tersebut jelas
4



3. Penjelasan sesuai dengan temuan
3



4. Penjelasan berkaitan dengan suatu teori
5


V
SIMPULAN DAN TINDAK LANJUT

13


A. Simpulan

6


1.  Ada simpulan tetapi tidak sesuai dengan temuan    dan tidak jelas  ® 2,0




2. Simpulan sesuai dengan temuan tetapi tidak jelas ® 4,0




3.  Simpulan disajikan dengan jelas dan sesuai dengan temuan ® 6,0




B. Saran Tindak Lanjut

7


1.  Ada saran dan tindak lanjut tetapi tidak sesuai dengan simpulan dan tidak logis ®  2,0




2.  Saran sesuai dengan simpulan tetapi tidak logis/tidak operasional  ® 4,0




3.  Saran sesuai dengan simpulan dan dapat
      dilaksanakan/operasional/logis ® 7,0



VI
DAFTAR PUSTAKA

2


1. Mencantumkan daftar pustaka ® 0,5




2. Daftar pustaka disusun secara alfabet sesuai dengan aturan (konsisten) ®  1,0




3. Daftar pustaka disusun secara alfabet sesuai dengan aturan (konsisten) dan sesuai dengan uraian laporan ® 2,0






Skor Total

100



Selain itu, laporan KTI yang disampaikan untuk pengembangan profesi dapat ditolak karena belum dilengkapi dengan bukti fisik yang seharusnya ada, tanggal pembuatan yang telah kadaluarsa, kerangka penulisan tidak sesuai dengan pedoman yang berlaku secara umum, dan belum mendapat pengesahan dari yang berwenang.

E. Penutup
Menulis laporan penelitian termasuk Penelitian Tindakan Kelas pada intinya adalah mengkomunikasikan ide kepada orang lain, sehingga orang lain bisa menangkap pesan komunikasi ilmiah yang dikemas dalam tulisan.
Penting pula diperhatikan bahwa pada laporan yang ditulis harus terdapat sinkronisasi antara masalah, tujuan, hipotesis, tindakan atau intervensi. Oleh karena itu menulis laporan penelitian perlu kemampuan menulis yang memadai.
Di samping itu panduan yang jelas, kriteria penilaian juga dibutuhkan, sehingga rekan sejawat dapat membantu menilai bahkan penulis dapat menilai sendiri laporannya.
Tulisan sederhana ini diharapkan dapat memberi informasi yang bermanfaat bagi para peneliti pemula dan para pendidik yang memiliki komitmen untuk memperbaiki mutu pendidikan nasional. 


DAFTAR PUSTAKA

 IGK Wardani, Kuswaya Wihardit, dan Noehi Nasoetion. (2002). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
 Suharsimi Arikunto, Suhardjono, dan Supardi. (2007). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Tri Rijanto, ”Karya Tulis Ilmiah”, Handout  Disampaikan pada Pelatihan Pengembang.
PP. No. 19 Tahun 2005 tentang Bandan Standar Nasional Pendidikan
Wijaya Kusumah dan Dedi Dwitagama, (2009). Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Indeks.
Yetti Supriyati, ”Dasar-dasar Penulisan Karya Tulis Ilmiah”, Handout, Disampikan pada Pelatihan Pengembangan Kompetensi Guru Tingkat Nasional, di Subang, April 2009.



[2] Suharsimi Arikunto, Suhardjono dan Supardi, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 58.
[3] Suharsimi Arikunto, Suhardjono dan Supardi, Ibid, h. 61.
[4] Peraturan Pemerintah No. 19 tentang Badan Standar Nasional Pendidikan.
[5] Romlah Gany, ”Hand Out Kuliah Metodologi Penelitian pada Prodi PAI FAI UMJ”, 2004.
[6] Wijaya Kusumah dan Dedi Dwitagama, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Indeks, 2009), h. 156-160.
[7] Tri Rijanto, “Handout Teknik Penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI)”. Disampaikan dalam Pelatihan Pembinaan Kompetensi Guru Tingkat Nasional di Cirebon, pada tanggal 9 November 2008.
[8] Suharsimi Arikunto, Suhardjono dan Supardi, Op. Cit. h. 84-86.

Reply to this post

Poskan Komentar